Hadiah Perpisahan 01

Bookmark and Share

Sepuluh milyar, pikirku. Butuh waktu lima tahun, lima tahun tambah dua orang partner dan banyak tipu daya, tapi paling tidak itu berhasil, dan sekarang sudah waktunya kita kabur dari sini. Aku sudah memikirkan ini sejak pertama kali. Kita bertiga bakal ketemu di kantor waktu liburan, jadi tidak ada karyawan lain yang bakalan melihat kita di sini. Dan dari kantor kita ke bandara, dan bertiga langsung terbang ke pulau tempat wanita-wanita cantik kumpul di sana dan dimana pejabat pemerintah lebih bisa di beli dari pada di sini, dan tidak ada perjanjian ekstradisi. Aku melihat jam tanganku, sudah jam 6 sore, masih ada waktu lima jam lagi sebelum kita berangkat ke bandara. Aku tersenyum waktu aku melihat papan nama di mejaku yang besar: Roy Pangestu, Wakil Presiden Direktur.

Sebuah ketukan di pintu kantorku membuat diriku tersadar dari lamunanku. Aku kaget sekali. Seharusnya tidak ada seorangpun di kantor ini, Johan dan Toni mustinya masih ada di bagian akunting membersihkan bukti-bukti supaya pelarian kita ini tidak cepat ketahuan. Aku berdiri dan mendekati pintu.
"Silakan masuk."

Pintu terbuka, dan seorang gadis muda seperti yang sering ada di cover majalah-majalah masuk ke kantorku, ragu-ragu. Dia benar-benar menakjubkan, berdiri tinggi langsing di atas sepatunya yang tinggi. Sepatunya hitam berkilat dengan hak yang tinggi, menutupi telapak kakinya yang pastinya halus dan indah kalau melihat tungkainya yang terlihat sempurna ditutupi stocking hitam, dan sebuah rok ketat menutupi sebagian pahanya yang tampak mulus. Sebuah blus putih dan rompi hitam tidak bisa menutupi perutnya yang rata, pinggangnya yang ramping dan buah dadanya yang bulat mengacung dari balik blusnya. Leher gadis itu putih bersih, menunjang sebuah wajah yang benar-benar ayu dengan bibir yang sensual. Rambut gadis itu ikal hingga ke punggung, jatuh lembut di sisi kepalanya, mempercantik mata gadis itu yang bulat dan tampak makin bercahaya di bawah sinar lampu kantorku.

"Selamat sore Pak, maaf", katanya ragu-ragu",Tapi saya mencari pak Santoso. Saya sedang kerja praktek di sini dan saya mengira beliau masuk hari ini."
Aku tampilkan senyumku yang paling oke sambil membalas tatapan matanya.
"Tadi pak Santoso memang masuk kantor. Tapi beliau sudah pulang lebih awal tadi siang. Silakan duduk dulu."
Aku menunjuk ke sofa kulit coklat dan mempersilakan dia duduk.
"Mungkin saya bisa bantu Nona?".

Gadis itu bergerak mendekati sofa itu dan aku mendekati pintu lalu menutupnya, sambil terus tersenyum, pikiranku sudah penuh dengan nafsu. Aku sudah siap lari dari negeri ini, pikiranku sebelumnya cuma dipenuhi bagaimana nanti setelah enam jam, Aku akan bebas dengan duit sebanyak sepuluh milyar, tiba-tiba gadis ini masuk ke kantorku, gadis yang benar-benar hot.

Gadis itu lalu duduk di sofa, menutup kedua kakinya sambil menarik roknya yang terangkat sedikit membuatku bisa melihat pahanya. Dia lalu mengeluarkan sebuah notes dan bolpen dari kantong dalam jaketnya dan memperhatikan padaku yang duduk di sudut meja kecil yang ada di seberangnya.
"Maaf, Bapak..." matanya bertanya-tanya.
"Pangestu, nama saya Roy Pangestu." Jawabku sambil tersenyum lagi, pikiranku sudah tidak bisa kemana-mana lagi selain melihat ke bibirnya yang sensual, lidahnya yang merah muda yang terlihat menjilat bibirnya setiap kali ia akan bicara. Aku bisa merasakan dadaku berdetak keras sekali ketika aku memperhatikan dia, berdetak makin keras, sementara pikiranku makin gelap, dan aku tahu apa yang akan terjadi, Aku juga sadar aku sudah bisa menguasai nafsuku lagi, lagipula aku tidak bermaksud menahan nafsuku ini.

"Begini pak Roy, saya bekerja praktek dengan pak Santoso sebagai income audit di perusahaan ini. Saya bekerja sebagai tugas akhir di akademi saya."
"Nona dari akademi mana?" kataku, lalu menggelengkan kepalanya",Maaf, tapi saya belum tahu nama Nona."
"Nama saya Lola. Lola Amelia." Katanya sedikit ragu-ragu. Tidak percaya diri.
"Begitu, lalu umur kamu berapa Lola?".
"Eehh, 21 tahun pak. Dan saya dari Akademi di sebelah perusahaan ini Pak."

Aku tersenyum padanya. Dia benar-benar sempurna, sempurna sekali. Telapak tanganku mulai berkeringat.
"Lalu apa yang bisa saya bantu buat Lola?" Aku benar-benar suka mendengar namanya di mulutku.
"Selama saya kerja praktek di sini, saya sedikit banyak sudah mengetahui cara kerja perusahaan ini." Jari-jari Lola menyibakan rambut yang menutupi wajahnya, tingkah lakunya agak berubah, tidak lagi gugup, lebih percaya diri ketika ia berbicara.
"Yang ingin saya ketahui adalah bagaimana rencana perusahaan ini sehubungan dengan peraturan pemerintah yang baru saja dikeluarkan."

Kepalaku mulai berdenyut-denyut, tapi aku yakin di mata Lola aku tetap seorang laki-laki yang tenang dan rileks, tersenyum sedikit sambil memperhatikannya. Ini selalu terjadi setiap kali aku terangsang, seluruh tubuhku akan berdenyut-denyut, sementara pikiranku akan fokus pada satu hal, sementara hal yang lain akan ditutup sebuah kabut, tubuhku tegang siap untuk meledak. Tapi sebaliknya penampilanku akan tetap tampak tenang, rileks, tersenyum menutupi gejolak yang ada di bawahnya.

Aku sesekali menjawab pertanyaannya, tanpa terlalu memperhatian apa yang kukatakan, melihat dia menundukkan kepalanya untuk menulis kata-kataku, lalu kembali menatapku, dengan wajahnya, dengan bibirnya dan kakinya juga blusnya, blus sialan yang menutupi buah dada dan puting susu, serta perut dan pahanya yang hot! Aku sedikit gemetar ketika aku berusaha menahan diriku beberapa menit lagi.
"Nah kira-kira begitu rencana perusahaan ini", Aku menyelesaikan penjelasanku.
Lola menganggukan kepala.
"Begitu. Pak Pangestu, bapak bilang ka..".
"Maaf saya menyela sebentar", kataku. "Tapi saya ingin menanyakan sesuatu hal. Pak Santoso itu, bagaimana ya...". Aku menerawang sejenak, "beliau punya sedikit reputasi yang tidak begitu baik di sini". Lola mengangkat wajahnya dan bertanya-tanya. Aku langsung menatap tepat di matanya yang bulat, wajahku menampakkan raut yang serius setengah mati, "beliau tidak pernah mengganggu kamu kan?"

Lola telihat terkejut sekali, dan aku sama sekali tidak terkejut. Si Santoso itu umurnya hampir 60 tahun, dan kalau dia bukan gay pasti di sudah di kebiri, soalnya dia sama sekali tidak tertarik sama cewek-cewek macam Lola ini. Dan semua sekretaris benar-benar suka sama dia soalnya dia benar-benar baik sama mereka.
"Tidak." Lola menggelengkan kepalanya. "Beliau tidak pernah mengganggu saya." Lola kembali gugup seperti sedang mempertahankan diri. Aku benar-benar suka melihatnya.
"Siswi praktek yang terakhir tahun kemarin pergi dari sini karena Pak Santoso mengucapkan sesuatu padanya", lanjutku, "Dan penampilan siswi itu tidak ada setengahnya dari kamu."
Aku melihat bibir Lola kembali keluar membasahi bibirnya yang kering, melihat betapa tangannya bergerak gugup di pangkuannya. Aku membungkuk mendekati dia, aku benar-benar hampir lepas kontrol waktu dia beringsut menjauh dariku.
"Beliau sering menyombongkan diri pada saya, kamu tahu, betapa senangnya dia tidur dengan mahasiswi atau anak SMA di sebuah hotel."

Lalu kantorku kembali sunyi ketika Lola menatapku dengan matanya yang indah, seluruh tubuhnya yang seksi itu sedikit gemetar ketika ia berusaha memilih tindakan selanjutnya. Ia menunduk dan langsung berdiri, memasukan notes dan bolpen ke dalam rompinya.
"Maaf pak", katanya sambil terus menunduk, "Pak Santoso tidak pernah sekalipun mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang mengganggu saya. Terima kasih atas waktu yang sudah bapak berikan."

Aku ikutin dia berdiri, tubuhku kelihatan lebih rileks lagi, sementara pikiranku berpacu dan mataku menangkap setiap gerakan Lola yang bergerak menuju pintu denganku di sebelahnya, mulutku mengucapka maaf beribu maaf, Aku bilang bahwa aku menyesal karena sudah membuatnya kaget tapi itu kenyataannya.
"Sekarang!" pikiranku berkata memerintah seluruh badanku ketika aku merasakan pegangan pintu telah kupegang, mata Lola masih tetap menatap ke depan acuh padaku ketika ia berhenti sejenak menungguku membukakan pintu buatnya.

Lola melihat apa yang akan menimpanya, tapi ia tidak bisa menghindar, dia tidak punya waktu buat menghindar. Telapak tanganku sudah melayang menghajar muka Lola di sebelah kiri. Lola tersentak, ia menjerit, ia sempoyongan, lebih banyak karena terkejut daripada karena tamparanku. Aku bergerak mendekatinya bagaikan binatang yang menyergap mangsanya. Lola sempoyongan ke kanan dan sepatunya tertekuk ke dalam membuatnya jatuh di atas lutut kanannya, tangan kanan Lola langsung menumpu tubuhnya agar tidak jatuh tersungkur. Sambil menggeram aku mengayunkan kaki. Aku menendang tepat di perutnya, membuat tubuh Lola mengejang, suara erangan yang menyakitkan terdengar dari mulut Lola ketika ia kembali jatuh di kedua lututnya, sementara kedua tangan Lola memegangi perutnya, kepala Lola menunduk ketika dia berusaha keras menghirup udara, rambutnya yang ikal menutupi wajahnya sementara air liur yang keluar dari mulutnya membasahi bibirnya yang seksi.

Kujambak rambutnya, tanganku langsung menggenggam erat, ketika kutarik rambut Lola ke belakang mendekati tubuhku, sementara tanganku yang lain menarik bagian atas blusnya.
"Lo mungkin udah selesai sama aku, tapi aku belon selesai sama lo", kataku keras. Lola yang semakin hot di penglihatanku masih berusaha megap-megap menghirup udara ketika aku menarik blusnya robek, kancing blus itu terlempar ke lantai, membuat bagian yang sejak ditutupi blus itu sekarang terbuka. Dada yang halus, mulus dan putih bersih, buah dada Lola ternyata lebih padat dan besar dari yang sudah aku bayangkan sebelumnya, dilindungi oleh sebuah BH.

Tangan Lola terangkat ke atas mendorong tanganku menjauh ketika aku sedang meremas salah satu gunungan daging di dada Lola, langsung saja kutarik lagi rambutnya. Lola mengerang kesakitan, tatapan panik dan ketakutan tampak di matanya ketika ia menatap mataku.
"Jangan, jangan."

Aku tampar dia sekali lagi, lebih keras dari yang tadi, suara jeritannya terdengar merdu sekali di telingaku ketika kepalanya terlempar ke samping, sementara tanganku masih menjambak rambutnya yang ikal dan halus.
"Jangan brisik!" Aku tampar dia lagi, jerit kesakitan dan ketakutan Lola bagaikan musik di telingaku, "Tutup mulut lo!"

Terdengar suara di belakangku, dan ketika aku berbalik aku melihat pintu kantorku perlahan terbuka dan masuklah Johan dan Toni ke kantorku. Lola meronta di sampingku, tangannya mencakari lenganku ketika ia berusaha untuk berdiri.
"Tolong saya! Tolong!" Lola menjerit pada Johan dan Toni, harapan mereka akan menolongnya membuatnya lebih tegar. Lola berhasil setengah berdiri ketika aku berbalik menghadapi dia lagi, tinjuku mengepal dan menghantam dadanya, membuat mata Lola membelalak kesakitan dan kembali jatuh berlutut, kemudian tersungkur di atas kedua tangannya, sehingga sekarang ia seperti merangkak di tanah, seorang gadis yang seksi tersungkur di atas tangan dan kakinya, sementara Toni, Johan dan aku berpandangan satu sama lain.

Toni lebih pendek dariku, keras, tampan dan tidak bermoral sama sekali, itulah kenapa kupilih dia sebagai partnerku. Ia kelihatan seperti seorang akuntan yang baru lulus, tapi itu tidak berbeda jauh dengan profesinya yang memang seorang akuntan. Dia sudah kawin, dua anak cewek, tapi dia sama sekali tidak keberatan kalau harus meninggalkan mereka, walaupun dia pernah cerita kalau dia sering menidurin kedua anaknya itu, agak bejat juga tapi itu kan bukan anakku jadi aku tidak peduli. Johan berbeda sama sekali. Ia seperti mandor bangunan yang pake jas. Dia mungkin berotot, tapi dia juga yang paling pinter diantara kita bertiga, dan seorang akuntan yang jago pula, terutama kalau dia harus menghilangkan sejumlah uang dari perusahaan.

Kalau saja orang lain yang masuk ke kantorku pasti sudah kubereskan. Tapi sekarang aku masih menunggu, Lola tersungkur, tangan dan lututnya berusaha menghirup udara, sambil memperhatikan dua rekanku yang baru saja masuk. Johan mendekati pintu dan aku perhatikan dia. Aku tersenyum lebar ketika aku melihat dia menutup pintu dan menguncinya tanpa berkata apapun. Toni memandang Lola lalu memandangku.
"Ada apaan nih?"
"Hadiah", kataku, "Hadiah buat perpisahan kita dengan kantor ini."

Aku melihat mata mereka kembali menatap Lola, yang mulai menguasai dirinya lagi. Aku tahu apa yang mereka lihat, seorang gadis berlutut di lantai, stocking hitam yang menutupi paha yang indah, rok yang ketat yang menutupi bulatan pantat yang penuh, blus yang ia pakai terbuka dan menggantung di tubuhnya, buah dadanya bergoyang-goyang dan rambutnya yang ikal bergoyang kian kemari ketika gadis itu megap-megap menghirup udara. Tidak ada laki-laki yang benar laki-laki yang tidak mau menyicipi gadis itu saat itu juga.

Lola menatap mereka, memohon dan meratap agar mereka menolongnya.
"Saya mohon, tolong saya", ia meratap, dan aku melihat itu menyentuh Toni. Aku melihat raut muka Toni langsung berubah, Aku melihat nafsu dan sadis sudah menguasai seluruh tubuh Toni ketika ia menatap Lola di bawahnya. Lola juga melihat itu dan air mata mulai mengalir dari matanya yang indah, sedu tedengar dari mulut Lola ketika ia menatap ke arah Johan dan menemukan wajah Johan yang tanpa perasaan dengan mata yang berkilat-kilat.
"Gimana kalo lo tunjukin yang lo dapet", kata Toni sambil terus menatap Lola.

Aku menurut, dengan tangan masih di rambutnya kutarik Lola supaya berdiri, tangan Lola meremas lenganku keras-keras, tapi aku tidak peduli sambil terus menariknya supaya berdiri lagi atas sepatunya yang bertumit tinggi itu. Dan ketika dia sudah berdiri kupegang tangannya dan kulipat ke belakang, pantat Lola menyentuh selangkanganku, membuat penisku berontak ingin keluar. Aku pegang tangannya yang satu lagi dan melipatnya juga ke belakang menjadi satu dengan tangannya yang lain. Dengan tangan dipegangi olehku, kutarik tubuh Lola mendekati badanku, terus aku gosokin pantatnya ke penisku yang sudah tegang setengah mati, Lola cuma bisa meratap dan menangis dengan perlakuanku itu.

Aku jambak lagi rambut Lola dengan tanganku yang masih bebas dan menariknya ke atas, sesaat tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan semakin mepet ke badanku. Buah dada Lola yang bulat dan kencang menyembul ke depan dihalangi oleh BH-nya, air mata menggenang di mata Lola ketika ia melihat Toni mendekati dirinya. Toni menatap mata Lola, dan aku melihat Lola menjilat bibirnya dan menelan ludah berusaha tenang dipegangi oleh tanganku. Toni tersenyum dan mengulurkan tangannya mengelus pipi kiri Lola. Tubuh Lola diam tak bergerak, tapi tetap terasa hangat di badanku. Jari-jari Toni mengelus pipi Lola lalu turun meraba kulit yang halus di leher Lola yang putih bersih tak bercela. Lola akhirnya bersuara, suara lebih tenang daripada ketika aku menamparnya tadi, tapi masih terdengar nada ketakutan dan gemetar.
"Lepaskan saya. Saya tidak akan bilang ke siapapun. Tolong lepaskan saya dan saya akan tutup mulut."

Lola menelan ludah lagi, semua diam, menunggu seseorang untuk bereaksi, dan aku masih menunggu reaksi Toni yang tersenyum sambil meletakan tangannya ke bahu Lola, bahu yang gemetar panik dan ketakutan. Sebuah jerit kesakitan terdengar lagi dari bibir Lola ketika Toni mengangkat lututnya dan menghantam tepat di perut Lola membuat lutut Lola menekuk kesakitan, tanganku mengeraskan pegangannya ketika Lola meronta kesakitan sampai akhirnya dia bisa berdiri karena masih kupegangi.

Lola kembali menguasai dirinya, masih megap-megap kesakitan, kakinya kembali diluruskan, sempoyongan berusaha berdiri lagi, sementara Toni menatapnya sambil tersenyum sadis dan aku balik tersenyum pada Toni dari belakang Lola dan Johan hanya memperhatikan semuanya dari seberang, matanya mengatakan bahwa ia menikmati ini semua.

"Siapa yang suruh lo bicara?" kata Toni sambil menggerakkan kepala Lola yang lunglai ke kiri dan kanan sambil melihat ke mata Lola yang basah karena air mata.
"Namanya siapa sih?" tanya dia ke aku.
"Lola Amelia." Kataku singkat.
"Nah Lola", Toni meraba perut Lola yang rata, membuat tubuh Lola meronta berusaha menghindar, tapi Lola mengerti untuk tidak bersuara sedikitpun.
"Nah Lola, lo benar-benar cewek yang cantik. Pernah tidak ada orang yang bilang begitu sama lo?" Tangan Toni sekarang ada di punggung Lola, membuatnya semakin dekat dengan Lola.
"Jawab!" bentak Toni, sambil menarik tubuh Lola mendekat padanya membuatnya semakin jauh dari tubuhku, sementara aku masih menggosokan penisku ke pantat Lola, rasa ketakutan dan tak berdaya Lola makin membuatku bernafsu.
"yyaa..", suara yang gemetar, penuh ketakutan dan tak berdaya membuatku ingin langsung melemparnya ke lantai dan langsung menidurinya saat itu juga.
"Aku yakin udah ada yang pernah ngomong gitu kan", Toni kembali mendekat dan sekarang mulai menjilati leher Lola dengan lidahnya, tangisan Lola semakin membuat Toni bersemangat ketika ia menemukan kancing BH Lola dan mulai melepaskannya. Tangis Lola semakin keras sementara ia diam tak bergerak di antara aku dan Toni, yang menggosokkan tubuh masing-masing ke tubuh Lola.

Aku mengela nafas ketika aku merasakan tangan Toni sudah melepas kancing BH Lola, dan aku langsung melepaskan pegangan tanganku dari pergelangan tangan Lola dan kutarik rompi serta blusnya dari bahu Lola, terus turun ke lengan sementara tubuh Lola dipegangi oleh Toni dari depan. Kulempar pakaian itu ke lantai dan melihat punggung Lola yang halus dan sangat menggairahkan. Tangan Lola sekarang menahan bahu Toni, dan aku bisa melihat betapa tangan itu gemetar ketakutan, Lola ketakutan untuk melawan dan menolak Toni. Aku melepaskan sepatuku dan berjalan ke samping di mana aku bisa melihat Toni dan mainan kita yang baru dengan jelas.

"Cantik, cantik sekali", bisik Toni, tangannya mengelusi punggung Lola.
"Sekarang kita melihat dada kamu." Toni kemudian menarik turun BH Lola hingga lepas dari tubuhnya sementara tubuhnya masih dalam dekapan Toni. Aku melihat mata Lola sekarang menatap kosong, dan penuh dengan air mata, ketakutan, dan putus asa. Aku turunkan celanaku dan menggosok penisku lewat celana dalamku sambil melihat Toni bermain dengan Lola, melepaskan BH itu dan membiarkannya jatuh ke lantai di antara mereka.


{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar